Bob Sadino

Bob Sadino

Pengusaha dari Indonesia

Lahir: 1933-2015

Kutipan: Bob Sadino

Kutipan 1 s/d 10 dari 47.

Tentang Bob Sadino

Bob Sadino
Bambang Mustari Sadino atau Bob Sadino adalah anak bungsu dari lima bersaudara lahir 9 Maret 1939, di Tanjungkarang, Lampung. Bob Sadino atau lebih akrab di panggi Om Bob ini lahir dari keluarga berkecukupan, namun bukan itu faktor yang menjadikan Om Bob sebagai pengusaha sukses.
Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Ia menghabisakan setengah hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalananya tersebut kemudian ia menetap selama Sembilan tahun di Belanda dan bekerja di jakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg,Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Bob Sadino kembali ke Indonesia pada tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, anak bungsu dari lima bersaudara ini hanya punya satu tekad, yaitu bekerja tanpa harus di bawah perintah orang lain. Ayahnya, Sadino orang Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal ketika Bob berusia 19. Ini telah menjadi tantangan baginya, sehingga akhirnya ia harus hidup mandiri.

Dengan modal yang Bob bawa dari Eropa hanya dua mobil Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan dan mobil satunya lagi ia jadikan taksi dan Bob sendiri yang menjadi sopirnya. Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari seorang temannya. Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah warung shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Catatan awal tahun 1985 menyebutkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan sayuran segar 100 ton.

Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak akan ada habisnya. Haji yang menyukai musik klasik dan jazz ini mengakui, saat-saat yang paling indah baginya adalah ketika bersembahyang jamaah dengan kedua anaknya.

  • orang-goblok-sulit-dapat-kerja-akhirnya-buka-usaha-sendiri-saat-bisnisnya
  • orang-pintar-maunya-cepat-berhasil-padahal-semua-orang-tahu-itu-impossible
  • jadikanlah-keluarga-sebagai-motivator-dan-supporter-pada-saat-baru-memulai
  • setinggi-apapun-pangkat-yang-dimiliki-anda-tetap-seorang-pegawai-sekecil
  • sekolah-terbaik-adalah-sekolah-jalanan-yaitu-sekolah-yang-memberikan-kebebasan
  • banyak-orang-bilang-saya-gila-hingga-akhirnya-mereka-dapat-melihat-kesuksesan