Pramoedya Ananta Toer
Penulis dari Indonesia
Hidup: 1925 - 2006
Kategori: Politics | Penulis (Modern) Negara:
Indonesia
Lahir: 6 Februari 1925 Meninggal: 29 April 2006
Kata-kata Bijak 41 s/d 60 dari 71.
-
Jangan panggil aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Namun bukan berarti aku tak butuh lelaki untuk aku cintai.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati.
Bumi Manusia (1980)― Pramoedya Ananta Toer -
Memerintah pekerja pun kau tidak bisa karena kau tak bisa memerintah dirimu sendiri. Memerintah diri sendiri kau tak bisa karena kau tak mau bekerja.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Terpelajar itu sudah harus adil semenjak dalam pikiran.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Uh, Hindia, negeri yang hanya dapat menunggu-nunggu hasil kerja Eropa!
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Apa guna jadi Jawa kalau hanya untuk dilanggar hak-haknya? Tak mengerti kau kiranya, catatan begini sangat pribadi sifatnya? Tak pernah gurumu mengajarkan etika dan hak-hak perseorangan?
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Karena itu, Ann, kau harus kuat. Kalau tidak, orang akan sangat mudah jadi permainan, dan terus dipermainkan oleh orang-orang semacam dia itu.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak juga mau hilang. Bila teringat kembali bagaimana hina aku dijual. Aku tak mampu mengampuni kerakusan Sastrotomo dan kelemahan istrinya. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan menjadi apa-apa.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Orang Jawa sujud berbakti kepada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran. Orang harus berani mengalah, Gus.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Harus adil sejak dalam pikiran, jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar-tidaknya.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Memang bukan nyai sembarang nyai. Dia hadapi aku, siswa H.B.S, tanpa merasa rendah diri. Dia punya keberanian nyatakan pendapat. Dan dia sadar akan kekuatan pribadinya.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Mereka membela apa yang menjadi haknya tanpa mengindahkan maut.
Bumi Manusia (1980)― Pramoedya Ananta Toer -
Mereka membela apa yang mereka anggap menjadi haknya tanpa mengindahkan maut. Semua orang, sampai pun kanak-kanak! Mereka kalah, tapi tetap melawan. Melawan, Minke, dengan segala kemampuan dan ketakmampuan.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Pendeknya aku harus waspada, kewaspadaan sebagai bea kebahagiaan hidup di dekat gadis cantik tanpa bandingan.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Jangan hanya ya-ya-ya. Tuan terpelajar, bukan yes-man. Kalau tidak sependapat, katakan. Belum tentu kebenaran ada pada pihakku.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Kebawelan banyak kali dianggap wanita sebagai ukuran kelihaian.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer -
Ya, Ann, aku telah mendendam orang tuaku sendiri. Akan kubuktikan kepada mereka, apa pun yang telah diperbuat atas diriku, aku harus bisa lebih berharga daripada mereka, sekalipun hanya sebagai nyai.
Bumi Manusia― Pramoedya Ananta Toer
Semua kata bijak dan ucapan terkenal Bumi Manusia dari Pramoedya Ananta Toer akan selalu Anda temukan di JagoKata.com (halaman 3)
Lihat semua kata-kata bijak dari Pramoedya Ananta Toer
Kata kunci dari kata bijak ini:
Penulis serupa
-
Tere Liye
Penulis dari Indonesia 409 -
Primadonna Angela
Penulis dari Indonesia 304 -
Boy Candra
Penulis dari Indonesia 298 -
Winna Efendi
Penulis dari Indonesia 282 -
Oscar Wilde
Penulis dari Irlandia 281 -
Orizuka
Penulis dari Indonesia 273 -
Arumi E.
Penulis dari Indonesia 261 -
Christian Simamora
Penulis dari Indonesia 259
Tere Liye
Primadonna Angela
Boy Candra
Winna Efendi
Oscar Wilde
Orizuka
Arumi E.
Christian Simamora