Kata-kata Bijak 41 s/d 60 dari 345.
-
Buat apa dia kembali? Buat apa muncul sejenak lalu menghilang lagi nanti?
-
Sejak saat itu, Atha mulai melihat sepatu dan warnanya yang mengagumkan itu sebagai sesuatu yang harus ia miliki. Harus selalu ia miliki. Kalau bukan sekarang, mungkin suatu hari nanti.
-
Sepanjang masa mudaku, cinta menjadi guru. Saat umurku separuh baya, cinta menjadi penolongku. Dan, ketika tua nanti, cinta akan menjadi kesenanganku.
-
Ya Tuhan! Apa susahnya? Kamu tinggal telepon, bilang, 'Hai, Esok, aku sedang di kotamu, apakah kamu mau bertemu? atau 'Hai, Esok, aku sedang di kotamu, apakah kamu mau makan malam bersamaku malam ini? Beres. Atau kamu bisa mengirim pesan pendek, sehingga kamu tidak perlu menatap wajahnya di layar hologram yang khawatir nanti membuatmu menjadi batu.
-
Barangkali pernah dalam hidupmu, engkau memiliki simpul persahabatan yang engkau percaya tak ada tandingannya. Engkau mengandalkannya kadang lebih dibanding engkau mempercayai kemampuanmu sendiri. Engkau mengenangnya seperti halnya Padi melagukan Harmoni. Engkau merasa tidak mungkin berdiri hari ini tanpa dirinya di masa lalu, meski di masa nanti, di mana dia, engkau tak tahu lagi.
-
Istilah “beli kaca, dan bercerminlah!’ sebelum diucapkan ke orang lain. Ada baiknya, belajar bercermin sendiri lebih dulu. Nanti kalau yang disarankan minta ajari cara bercermin dan kamu tidak pandai, ketahuan kan kamunya yang jarang ngaca.
-
…jari manis melambangkan pasangan kita. Coba deh satukan telapak tanganmu. Kayak gini. Jempol ketemu jempol, telunjuk ketemu telunjuk, jari tengah ketemu jari tengah dan seterusnya. Jempol melambangkan orangtua, telunjuk melambangkan saudara, jari tengah melambangkan diri sendiri, jari manis melambangkan pasangan, dan yang terakhir jari kelingking melambangkan anak-anak kita nantinya. Dengan posisi kayak gini, kita bisa memisahkan jempol, karena orangtua enggak ditakdirkan bersama kita selamanya. Jari telunjuk juga bisa dipisahin karena kita enggak ditakdirkan bersama saudara kita seumur hidup. Mereka pasti bakal ninggalin kita dan punya keluarga sendiri. Kelingking juga dipisahin karena anak kita nanti enggak akan selamanya bareng kita. Mereka akan jadi dewasa, terus punya kehidupan sendiri. Sedangkan jari manis melambangkan pasangan. Gimanapun kita berusaha memisahkan, kita enggak akan berhasil. Karena pasangan kitalah yang ditakdirkan bersama kita selamanya, dalam suka dan duka.
-
Ingat saja pepatah Tiongkok, sebelum bunyi empat paku diatas peti mati kamu, kamu tidak bisa menilai orang lain itu baik atau buruk, nanti kamu baru tahu apa yang saya kerjakan.
-
Jangan ada lagi pihak yang memanas-manasi proses pemilihan kepala daerah sehingga timbul keresahan di masyarakat. Yang rugi nanti rakyat sendiri.
-
Pada akhirnya nanti, semua yang pernah hilang atau diambil dari diri kita akan kembali lagi kepada kita, walaupun dengan cara yang tidak pernah kita duga.
-
Semua anak adalah seniman. Masalahnya adalah bagaimana tetap menjadi seorang seniman setelah ia besar nanti.
-
Kalau kamu percaya takdir, aminkan dalam hati, kita bertemu lagi suatu hari nanti.
-
Saya itu orang egois yang ingin ketika saya meninggal nanti, saya diingat.
-
Saya tidak pernah meramal masa depan, saya hanya peduli untuk menjaga masa kini. Tuhan tidak memberikan kendali akan masa-masa nanti kepadaku.
-
Bahkan kalau mati dalam proses mencari ilmu dia akan diganjar dengan gelar syahid, dan berhak mendapat derajat premium di akhirat nanti.
-
Menolong orang tidak perlu diiming-imingi ‘Nanti dapat pahala dan rezeki berlipat ganda’ Karena ketulusan tidak mengharapkan imbalan.
-
Mari kita berangkat, hanya kau dan aku. Nanti, ketika senja beranjak menapak langit, seperti seorang pasien yang tersandera di atas pembaringan.
-
Saya selalu membayangkan bahwa Surga itu nanti seperti perpustakaan.
-
Apalah artinya aku hidup denganmu nanti, sedangkan masa lalumu masih hidup di hatimu.
-
Aku cuma harus mencelupkan kaki ke air laut. Nanti biar ombak yang menyampaikan rinduku.
Semua kata bijak dan ucapan terkenal nanti akan selalu Anda temukan di JagoKata.com (halaman 3)