Kata-kata Bijak 1 s/d 20 dari 23.
-
Selama seseorang itu belum kembali, aku anggap Bulan sebagai penggantinya.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Cinta itu memang fitrah, tetapi jika bukan pada tempat dan saat yang tepat, ia harus rela menunggu hingga waktu itu tiba.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Semua ka ada prosesnya. Hidayah itu dicari, bukan ditunggu.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Ikhlas pakai jibabnya memang niatnya cuma buat Allah, bukan karena orang lain.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Tidak ada yang lebih indah selain mendapatkan kehangatan dari seseorang yang paling dicintai kala diri sedang disapa pedih, ada rasa hangat dan nyaman.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Tuhan pernah bilang, shalatlah semampumu, berbuat baik semampumu, beribadah itu semampumu saja.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Apakah semua harus selalu dijelaskan? Apakah semua tidak bisa berjalan hanya dengan dipahami dengan cara masing-masing saja?
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Bertengkar terus setiap hari. Itu kan berarti hatinya panas, ndak tenang. Kemrusngsung tho?
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Kita memang hidup dengan masa lalu. Tapi kita enggak akan bisa terus berdiri dalam masa lalu itu. Kita harus maju melangkah.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Tuhan ngelihat terus apa yang kita lakukan. Tuhan enggak pernah absen ngawasin kita.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Cinta itu seperti cahaya yang berharga di tengah dunia yang galau.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Cinta, kan, enggak dipaksa, ya?
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Kalau Bapak minta sama Tuhan supaya ibumu dikembalikan lagi bisa ndak, ya? Bisa to?
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Kalau ditolak cintanya itu pasti sakit, ya, rasanya?
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Kenapa cinta itu hadir pada waktu dan tempat yang tidak tepat ya?
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Kesedihan itu bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk dibagi dengan teman yang peduli.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Masuk ke sebuah jurusan tidak ditentukan orang itu suka merenung atau tidak, bukan?
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Memang, aku enggak salah kalau ngungkapin perasaanku ke kamu. Perasaan sukaku ke kamu itu wajar, kan? Dan enggak salah. Yang bikin salah itu kalau aku maksa juga punya perasaan sama kayak perasaanku.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Memangnya apa ukuran romantis?
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari -
Orang sakit tidak perlu dihibur dengan air mata cemas. Tawa dan kunjungan orang terdekatlah yang paling dibutuhkan.
Di Bawah Naungan Cahaya-Mu― Desi Puspitasari
Semua kata bijak dan ucapan terkenal Di Bawah Naungan Cahaya-Mu dari Desi Puspitasari akan selalu Anda temukan di JagoKata.com
Lihat semua kata-kata bijak dari Desi Puspitasari
Buku dari Desi Puspitasari:
Kata kunci dari kata bijak ini:
Penulis serupa
-
Pramoedya Ananta Toer
Penulis dari Indonesia 437 -
Tere Liye
Penulis dari Indonesia 409 -
Primadonna Angela
Penulis dari Indonesia 304 -
Boy Candra
Penulis dari Indonesia 298 -
Winna Efendi
Penulis dari Indonesia 282 -
Oscar Wilde
Penulis dari Irlandia 281 -
Orizuka
Penulis dari Indonesia 273 -
Arumi E.
Penulis dari Indonesia 261


















Pramoedya Ananta Toer
Tere Liye
Primadonna Angela
Boy Candra
Winna Efendi
Oscar Wilde
Orizuka
Arumi E.