Kata-kata Bijak dari Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Penulis dari Indonesia

Hidup: 1925 - 2006

Kategori: Politics | Penulis (Modern) Negara: FlagIndonesia

Lahir: 6 Februari 1925 Meninggal: 29 April 2006

Kata-kata Bijak 141 s/d 160 dari 437.

  • Menyusuri hutan-hutan jati
    Melihat rumput-rumput yang terbakar di bawahnya
    Menyaksikan sepur-sepur yang batuk membelah tanah Jawa
    Arwah-arwah pekerja bergentayangan menuju ibu kota,
    Mencipta banjir dari genangan air mata
    Sumber: PUISI UNTUK AYAH
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +17
  • Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru-indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya.
    Sumber: Rumah Kaca (1988)
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +17
  • Tak ada orang yang tak suka pada pujian. Kalau orang merasa terhina karena dipuji, tandanya orang itu berhati culas.
    Sumber: Bumi Manusia
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +17
  • Ah, Gus, begini kodrat perempuan. Dia menderitakan sakit waktu melahirkan, menderita sakit lagi karena tingkahnya.
    Sumber: Bumi Manusia
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +16
  • Manusia terlalu sering bertepuk hanya sebelah tangan.
    Sumber: Bumi Manusia (1980)
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +16
  • Negeri Matahari Terbit, negeri Kaisar Meiji itu berseru pada para perantaunya, menganjurkan: Belajar berdiri sendiri! Jangan hanya jual tenaga pada siapa pun! Ubah kedudukan kuli jadi pengusaha, biar kecil seperti apa pun; tak ada modal? Berserikat, bentuk modal! Belajar kerja sama! Bertekun dalam pekerjaan!
    Sumber: Anak semua bangsa
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +16
  • Tapi seperti rambu lalu lintas yang setia, sedih dan derita selalu berpelukan dengan setia
    Sumber: PUISI UNTUK AYAH
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +16
  • Aku mengeluh. Hatiku tersayat. Aku memang perasa. Dan keluargaku pun terdiri dari makhluk-makhluk perasa.
    Sumber: Bukan Pasarmalam
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +15
  • Aku tak suka pada priayi. Gedung-gedung berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan. Tak ada orang mau dengarkan tangisnya. Kalau anak itu besar kelak, dia pun takkan dengarkan keluh-kesah ibunya. Dia akan perintah dan perlakukan aku seperti orang dusun, seperti abdi. Dia perlakukan aku seperti bapaknya memperlakukan aku kini dan selama ini. Tapi lindungilah dia. Dia anakku yang tak mengenal emaknya, tak kenal lagi air susu emaknya.
    Sumber: Gadis Pantai
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +15
  • Dahulu dia selalu katakan apa yang dia pikirkan, tangiskan, apa yang ditanggungkan, teriakan ria kesukaan di dalam hati remaja. Kini dia harus diam - tak ada kuping sudi suaranya.
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +15
  • Dan rangsang hidup itu ogah dibius padam begitu saja: lihatlah, bukan saja kerjamu belum selesai, yang selesai pun terlalu banyak cacat dan cela. Imajinasi saja tidak cukup. Kau harus tinggal hidup, paling tidak tiga puluh tahun lagi. Sertai dan saksikan akhir dari semua ini!
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +15
  • Keindahannya ada dalam kenang-kenangan.
    Sumber: Bumi Manusia
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +15
  • Menulis adalah sebuah keberanian...
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +15
  • Sebagai ideologi, komunisme bermakna untuk individu. Akan tetapi, sebagai sistem politik, komunisme tidak demokratis dan mengarah pada penindasan.
    Sumber: Saya Ingin Lihat Semua Ini berakhir (2008) 141
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +15
  • Seganas-ganasnya laut dia lebih pemurah dari hati priayi.
    Sumber: Gadis Pantai
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +15
  • Jadi apanya yang harus dikenal, kan orang dikenal karena karyanya, ratusan juta orang di atas bumi ini tidak berkarya yang membikin mereka dikenal, maka tidak dikenal.
    Sumber: Bumi Manusia
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +14
  • Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.
    Sumber: Jean Marais 55
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +14
  • Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.
    Sumber: Bumi Manusia
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +14
  • Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah
    Pulang ke teduh matamu
    Berenang di kolam yang kau beri nama rindu
    Sumber: PUISI UNTUK AYAH
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +14
  • Sejak jaman Nabi memang sudah ada hamba-hamba iblis. Maling. Siapa heran ada maling selama iblis ada? Tapi malingpun butuh kehormatan, semakin dia tidak punya kehormatan diri.
    Sumber: Gadis Pantai
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +14
Semua kata bijak dan ucapan terkenal Pramoedya Ananta Toer akan selalu Anda temukan di (halaman 8)

Tentang Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya dilahirkan di Blora pada tahun 1925 di jantung pulau jawa di sebelah timur Pulau Sumatera, sebagai anak sulung dalam keluarganya.

Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya seorang penjual nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya.

Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.