Kata-kata Bijak dari Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Penulis dari Indonesia

Hidup: 1925 - 2006

Kategori: Politics | Penulis (Modern) Negara: FlagIndonesia

Lahir: 6 Februari 1925 Meninggal: 29 April 2006

Kata-kata Bijak 81 s/d 100 dari 437.

  • Gairah kerja adalah pertanda daya hidup; dan selama orang tidak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut.
    Sumber: Rumah Kaca (1988) h. 460
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +43
  • Aku bangga menjadi seorang liberal, Tuan, liberal konsekwen. Memang orang lain menamainya liberal keterlaluan. Bukan hanya tidak suka ditindas, tidak suka menindas, lebih dari itu: tidak suka adanya penindasan.
    Sumber: Anak semua bangsa
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +42
  • Dan sejak itu pula ia praktekan tafsiran bahwa kehormatan berarti uang.
    Sumber: Larasati
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +40
  • Juga jangan jadi kriminil dalam percintaan - yang menaklukan wanita dengan gemerincing ringgit, kilau harta dan pangkat. Lelaki belakangan ini adalah juga kriminil, sedang perempuan yang tertaklukan hanya pelacur.
    Sumber: Bumi Manusia
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +40
  • Kadang-kadang memang terasa olehnya bahwa heroisme dan patriotisme wanita di jaman revolusi ini terletak pada kepalangmerahan saja! Tapi ia tak akan meninggalkan kejujurannya. Ia cintai kejujurannya. Dan ia yakin melalui kejujurannya ia pun dapat berbakti kepada revolusi. Ia merasa dirinya pejuang, berjuang dengan caranya sendiri.
    Sumber: Larasati
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +40
  • Semua yang terjadi di kolong langit ini adalah urusan setiap orang yang berfikir.
    Sumber: Anak semua bangsa 390
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +40
  • Biarlah hati ini patah karena sarat dengan beban, dan biarlah dia meledak karena ketegangan. Pada akhirnya perbuatan manusia menentukan, yang mengawali dan mengakhiri. Bagiku, kata-kata hiburan hanya sekedar membasuh kaki. Memang menyegarkan. Tapi tiada arti. Barangkali pada titik inilah kita berpisah.
    Sumber: Arus Balik (1995)
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +38
  • Mengapa yang tidak setuju tak dapat mengekang nafsu menghina? Antara kita sendiri, kalau hanya hendak menghina pun tidak semua bisa berdiri sama tinggi. Penghinaan yang bodoh hanya akan memukul diri sendiri.
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +38
  • Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.
    Sumber: Larasati
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +37
  • Saya mengharapkan bahwa apa yang dibaca dalam tulisan saya akan memberikan kekuatan pada pembaca saya, memberikan kekuatan untuk tepat berpihak pada yang benar, pada yang adil, pada yang indah. Saya berharap bahwa pembaca-pembaca di Indonesia, setelah membaca buku saya, menjadi berani, merasa dikuatkan. Dan kalau itu terjadi, saya mengangggap tulisan saya berhasil. itu adalah suatu kehormatan bagi seorang pengarang, terutama bagi saya. Lebih berani. berani. lebih berani.
    Sumber: Aku Ingin Lihat Semua Ini Berakhir 172
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +36
  • Saya adalah seorang anak Renaisans. Karenanya, saya percaya kebaikan dan keadilan. Saya adalah manusia yang baik karena saya menginginkannya, bukan karena agama, undang-undang, atau paksaan. Itu adalah pengertian yang humanis. Saya ingin dianggap manusia baik karena keinginan saya, karena nurani saya, bukan karena sesuatu dari luar.
    Sumber: Aku Ingin Lihat Semua Ini Berakhir 168
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +35
  • Setiap permulaan memang sulit. Dengan memulai setengah pekerjaan sudah selesai, kata pepatah.
    Sumber: Van Heutsz 264
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +35
  • Tetapi manusia pun bisa mengusahakan lahirnya syarat-syarat baru, kenyataan baru, dan tidak hanya berenang diantara kenyataan-kenyataan yang telah tersedia.
    Sumber: Minke 339
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +34
  • Hanya orang dan binatang bodoh saja yang kena cambuk.
    Sumber: Gadis Pantai (1962-65)
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +33
  • Maksudnya adalah bahwa Indonesia tidak pernah betul-betul merdeka? Tidak pernah sampai sekarang. Sekarang Globalisme berkuasa. Semua dijadikan barang dagangan, bahkan juga politik, partai, dan manusia. Semua dipandang sebagai barang dagangan.
    Sumber: Saya Ingin Lihat Semua Ini berakhir (2008) 162
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +33
  • Apa bisa diharapkan dari mereka yang hanya bercita-cita jadi pejabat negeri, sebagai apapun, yang hidupnya hanya penantian datangnya gaji?
    Sumber: Minke 163
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +32
  • Arwah-arwah buruh menggiring hujan air mata, mata mereka menyeret banjir
    Sumber: PUISI UNTUK AYAH
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +32
  • Mereka bertengkar ramai dalam bahasa yang bagiku sama asingnya dengan bahasa nasib manusia.
    Sumber: Jejak Langkah (1985)
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +32
  • Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan. Dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila, bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan.
    Sumber: Rasialisme Anti-Tiong Hoa dan Percobaan Menjawabnya: 22 Oktober 1998
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +31
  • Cinta tidak pernah buta. Cinta baginya adalah memberi-memberikan segala-galanya dan berhenti apabila napas berhenti mengembus.
    Sumber: Panggil Aku Kartini Saja
    Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +29
Semua kata bijak dan ucapan terkenal Pramoedya Ananta Toer akan selalu Anda temukan di (halaman 5)

Tentang Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya dilahirkan di Blora pada tahun 1925 di jantung pulau jawa di sebelah timur Pulau Sumatera, sebagai anak sulung dalam keluarganya.

Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya seorang penjual nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya.

Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.