Kata-kata Bijak: dari Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer

Penulis dari Indonesia

Lahir: 1925-2006

  • Pramoedya Ananta Toer
  • Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan.
  • Saya selalu percaya dan ini lebih merupakan sesuatu yang mistis, bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang.
  • Pada akhirnya persoalan hidup adalah persoalan menunda mati, biarpun orang-orang yang bijaksana lebih suka mati sekali daripada berkali-kali.
  • Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri.
  • Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian.
+3

Kata-kata Bijak 221 s/d 240 dari 437.

  • Apa artinya Arus Balik? Sebelum abad ke 15 - 16, arus ini mengalir dari arah Nusantara ke utara, dengan armada dagang. Karena kedatangan armada-armada eropa, mereka diusir. Jadi, arus itu dialihkan dari utara ke selatan. itu merupakan titik tolak dalam sejarah.
    Sumber: Aku Ingin Lihat Semua Ini Berakhir 161
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Apa guna jadi Jawa kalau hanya untuk dilanggar hak-haknya? Tak mengerti kau kiranya, catatan begini sangat pribadi sifatnya? Tak pernah gurumu mengajarkan etika dan hak-hak perseorangan?
    Sumber: Bumi Manusia
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Apa yang sudah dibaca Kartini digenggamnya terus di dalam tangannya, dan ikut memperkuat moralnya.
    Sumber: Panggil Aku Kartini Saja
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Apakah sebangsamu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya? Siapa bakal memulai kalau bukan kau?
    Sumber: Jejak Langkah (1985)
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Hidup ini Anakku, hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpikir, bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan manusia di dunia ini.
    Sumber: Bukan Pasarmalam
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Ia pun sesungguhnya mengerti orang-orang di gunung itu ingin belajar, ingin bergambar sebagaimana mereka yang tinggal di darat, di pantai, dan di tempat-tempat lain.
    Sumber: Perawan Dalam Cengkeraman Militer
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
    Sumber: Bumi Manusia
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Mereka (brahmana) tidak perlu takut pada kedunguan. Mereka belajar setiap hari untuk tidak jadi dungu.
    Sumber: Arok Dedes (1999)
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Revolusi ini tidak memberi sesuatu pun, dia minta kepada setiap orang, segala-galanya.
    Sumber: Larasati (2000)
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Revolusi Perancis, mendudukkan harga manusia pada tempatnya yang tepat. Dengan hanya memandang manusia pada satu sisi, sisi penderitaan semata, orang akan kehilangan sisinya yang lain. Dari sisi penderitaan saja, yang datang pada kita hanya dendam, dendam semata.
    Sumber: Anak semua bangsa 204
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Secacat itu tapi masih berjuang! Mestinya perjuanganku lebih dari dia. Aku tidak cacat. Lebih, mesti! Lebih!
    Sumber: Larasati
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa apa.
    Sumber: Bumi Manusia
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Siapa mencuri kata-kata, berarti mencuri pikiran. Siapa mencuri pikiran, berarti mencuri hal yang hakiki dari manusia. Mencuri pikiran, merendahkan hak-hak manusia, berarti melenyapkan apa yang membedakan manusia dari binatang.
    Sumber: Saya Ingin Lihat Semua Ini berakhir (2008) 53
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya, kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya. Kalau dia tak mengenal sejarahnya. Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya.
    Sumber: Minke 202
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Yang tak berdarah mati. Yang kekurangan darah lemah. Hanya yang berlumuran darah saja perkasa. Ada adinda dengar? Perkasa! Dan hanya si lemah berkubang dalam air matanya sendiri.
    Sumber: Mangir (2000)
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +7
  • Apa yang pernah diberikan Belanda kepada rakyat? Mereka datang ke sini bukan untuk memberi, tetapi untuk meminta! Rakyat mendapat apa yang dicarinya sendiri, sejak dulu si Belanda lah yang malahan mendapat sebagian besar dari nasi yang dicari oleh rakyat. Apa yang diberikan Belanda kepada rakyat?
    Sumber: Larasati
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +6
  • Bagi orang atasan ingat-ingatlah itu Mas Nganten, tambah tinggi tempatnya tambah sakit jatuhnya. Orang rendahan ini boleh jatuh seribu kali, tapi ia selalu berdiri lagi. Dia ditakdirkan untuk sekian kali berdiri setiap hari.
    Sumber: Gadis Pantai
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +6
  • Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini.
    Sumber: Bumi Manusia
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +6
  • Dan bukankan satu ciri manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya bergabung mengangkat sebangsanya yang lemah, memberinya lampu pada yang kegelapan dan memberi mata pada yang buta.
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +6
  • Dia sangat cinta pada republik, revolusi, dia mencintai kampung halamannya, biarpun busuk-busuk membumbungkan gas lumpur dan kotorannya sendiri.
    Sumber: Larasati
    ― Pramoedya Ananta Toer
    - +
    +6
Kata-kata Pramoedya Ananta Toer - quotes, kata mutiara, kata bijak dan kutipan dari Pramoedya Ananta Toer yang terbaik dan terkenal: 437 ditemukan (halaman 12)

Tentang Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya dilahirkan di Blora pada tahun 1925 di jantung pulau jawa di sebelah timur Pulau Sumatera, sebagai anak sulung dalam keluarganya.

Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya seorang penjual nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya.

Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.

Sumber Wikipedia

Kata kunci dari kata bijak ini:

  1. terbungkuk-bungkuk
  2. sehormat-hormatnya
  3. individu-individu
  4. segala-galanya
  5. ingat-ingatlah
  6. lingkungannya

Tokoh yang sama