Kata-kata Bijak 21 s/d 40 dari 132.
-
Gelisah, menampar tak basah pada senja yang bergeromis. Begitu keringkah ladang pertautan kita hingga tunas harapan enggan tumbuh lagi.
― Moammar Emka -
Cinta yang sejati, cinta yang ketika kita kira sudah pergi, ternyata cuma bersembunyi, menunggu untuk kembali lagi.
― Moammar Emka -
Aku adalah kunang-kunang. Dalam gelap aku terbang, dalam gelap aku terang.
― Moammar Emka -
Rumah. Sejauh manapun aku melangkah dan berlari, kepadanya juga aku kembali. Karena disanalah hati begitu nyaman berdiam. Ada rindu yang terus bernyawa. Membawa inginku selalu kembali kepadanya.
Rumah itu kamu.― Moammar Emka -
Aku berserah pada sang waktu. Semoga mau bersedekah mengirimkan satu paket rindu beserta bumbu penyedapnya.
― Moammar Emka -
Beruntunglah punya ingatan. Dari titik jenuh, kita tinggal melompat ke masa yang paling membahagiakan.
― Moammar Emka -
Penuh sesak. Rindu yang kutampung melebihi kapasitasnya. Berdesakan ingin keluar mencari pintu pertemuan.
― Moammar Emka -
Entah dimana, entah kapan masanya, cinta itu memanggilku lagi? jika terjadi, semoga kamu tujuanku berlari.
― Moammar Emka -
Hidup itu bukan tentang menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.
― Moammar Emka -
Terjaga seketika, malam telah berganti pagi. Ada yang hilang dari, entah..mungkin kamu dan harapan untuk bersatu lagi.
― Moammar Emka -
Datanglah sejenak, dekaplah sejenak. Setiaku ada dan tak jera. Rinduku tak pupus meski kita tak satu.
― Moammar Emka -
Masih. Tak terlupa apalagi hilang. Jejakmu terpasung lekang, disini, dalam cetakan biru kenangan.
― Moammar Emka -
Mengakhiri tapi tidak benar-benar mengakhirinya. Mungkinkah? makssud hati melengang pergi, apa daya kaki merintih perih.
― Moammar Emka -
Semesta nyaman yang menjalar dan teduh yang berjajar. Menguar rindu yang tak terbilang. Mengeja cinta tanpa tanda tanya, berulang-ulang. Rumah itu hatimu.
― Moammar Emka -
Membunuh rindu untuk bangkit lagi; menenggelamkan nurani pada altar tak berpenghuni.
― Moammar Emka -
Meratapi kesedihan, itu seharusnya. Bangkit dari keterpurukan, itu usaha luar biasa, " lirih pikiranku, menguatkan hati.
― Moammar Emka -
Mungkin benar juga. Kita berjodoh dengan senja. Ketika jingganya menghilang, aku kesurupan luka perpisahan itu.
― Moammar Emka
Semua kata bijak dan ucapan terkenal Moammar Emka akan selalu Anda temukan di JagoKata.com (halaman 2)
Kata kunci dari kata bijak ini:
Penulis serupa
-
Pramoedya Ananta Toer
Penulis dari Indonesia 437 -
Tere Liye
Penulis dari Indonesia 409 -
Primadonna Angela
Penulis dari Indonesia 304 -
Boy Candra
Penulis dari Indonesia 298 -
Winna Efendi
Penulis dari Indonesia 282 -
Oscar Wilde
Penulis dari Irlandia 281 -
Orizuka
Penulis dari Indonesia 273 -
Arumi E.
Penulis dari Indonesia 261
Pramoedya Ananta Toer
Tere Liye
Primadonna Angela
Boy Candra
Winna Efendi
Oscar Wilde
Orizuka
Arumi E.