Kata-kata Bijak: Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib

Seorang seniman, budayawan, penyair, serta intelektual asal Indonesia.

Lahir: 1953-

  • Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tak bisa dibawa mati.
  • Kebanyakan manusia berjuang mengada-adakan dirinya. Menonjol-nonjolkan dirinya, bahkan untuk itu mereka meniadakan mahluk selainnya. Sampai tega meniadakan Tuhannya, itulah kematian.
  • Ada yang bilang negeri ini "Negeri Selembar Kertas", masyarakat kita "Masyarakat Selembar Ijazah".
  • Manusia jangan menunggu hancur dulu baru insaf.
  • Menyepi itu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian.
  • Surga itu gak penting, fokuskan dirimu hanya pada Tuhan.
  • Cinta bukanlah bertahan seberapa lama. Tetapi seberapa jelas dan ke arah mana.
+3

Kata-kata Bijak 1 s/d 10 dari 76.

  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +512
    Cinta bukanlah bertahan seberapa lama. Tetapi seberapa jelas dan ke arah mana.
  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +511
    Agama diajarkan kepada manusia agar ia memiliki pengetahuan dan kesanggupan untuk menata hidup, menata diri dan alam, menata sejarah, kebudayaan, politik.
  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +511
    Kebersihan luas maknanya, kebersihan ruang dan kampung hanyalah satu hal, hal lain adalah kebersihan jiwa manusia itu sendiri, kebersihan pergaulan antarmanusia, baik pergaulan sosial, pergaulan ekonomi, pergaulan politik dan hukum.
    Sumber: Markesot Bertutur
  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +421
    Pemimpin yang terbaik adalah yang paling memiliki penguasaan diri untuk dipimpin. Maka seorang Pendito Ratu haruslah a man of nothing to loose. Tak khawatir kehilangan apa-apa. Jangankan harta benda, simpanan uang, seribu perusahaan, tanah, gunung dan tambang. Sedangkan dirinya sendiripun sudah tak dimiliknya, sebab telah diberikan kepada Tuhan dan rakyatnya.
    Sumber: OPLeS: Opini Plesetan 50
  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +369
    Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah, Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang sehingga kalah pun bukan dosa, yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang.
  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +346
    Tidak apa-apa kalau ilmu agamamu masih pas-pasan, itu malah membuatmu menjadi rendah hati. Banyak orang yang sudah merasa tahu ilmu agama, malah menjadikannya tinggi hati.
  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +334
    Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyamar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah itikad baik yang terlalu polos. Dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.
    Sumber: OPLeS: Opini Plesetan
  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +334
    Manusia jangan menunggu hancur dulu baru insaf.
  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +326
    Ada orang yang mengkritik tapi tidak memberi jalan keluar. Ada orang yang memberi jalan keluar tanpa mengkritik.
  • Emha Ainun Nadjib
    ajax-loader
    - +
    +324
    Tuhan tidak tersakiti oleh pengingkaran Anda. Tetapi Tuhan sangat tersakiti jika Anda berpura-pura menyembahNya.
Kata-kata, quotes, kata mutiara, kata bijak dan kutipan dari Emha Ainun Nadjib yang terbaik dan terkenal selalu di JagoKata.com: 76 ditemukan

Tentang Emha Ainun Nadjib

Nama lengkapnya adalah Muhammad Ainun Nadjib dikenal pula dengan nama Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Lahir di Jombang, Provinsi Jawa Timur pada tanggal 27 Mei 1953.

Cak Nun belajar sastra pada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius, dengan merantau di Malioboro, Yogyakarta antara tahun 1970-1975.

Ia pun gemar menekuni beberapa pementasan teater yang berhasil digelarnya. Cak Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, AS (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).