Kata-kata Bijak: Butet Kertaredjasa

Butet Kertaredjasa

Seniman, aktor dan budayawan dari Indonesia

Lahir: 1961-

  • Kualitas humor tertinggi itu kalau mampu mengejek diri sendiri. Cocok juga ditonton politisi. Belajar becermin untuk melihat diri sendiri yang asli.

Kata-kata Bijak 1 s/d 5 dari 5.

1
  • Butet Kertaredjasa
    ajax-loader
    - +
    +41
    Pancasila dalam kedudukannya sebagai idiologi Negara mampu mempersatukan berbagai kalangan baik yang agamis, nasionalis, sosialis, serta kalangan lainnya dalam mimpi kolektif untuk mewujudkan sebuah Indonesia yang terbayangkan.
  • Butet Kertaredjasa
    ajax-loader
    - +
    +18
    Teater telah mengajarkan saya, bawa kita hanyalah bagian dari hidup, bagian dari orang lain. Seorang aktor tak pernah hidup sendirian.
  • Butet Kertaredjasa
    ajax-loader
    - +
    +15
    Kualitas humor tertinggi itu kalau mampu mengejek diri sendiri. Cocok juga ditonton politisi. Belajar becermin untuk melihat diri sendiri yang asli.
  • Butet Kertaredjasa
    ajax-loader
    - +
    +8
    Proses berteater adalah proses menemukan keyakinan, juga kebahagiaan..
  • Butet Kertaredjasa
    ajax-loader
    - +
    +8
    Segala yang menggelintirkan logika akal sehat namanya dagelan.
1
Kata-kata Butet Kertaredjasa - quotes, kata mutiara, kata bijak dan kutipan dari Butet Kertaredjasa yang terbaik dan terkenal: 5 ditemukan

Tentang Butet Kertaredjasa

Butet Kertaredjasa lahir di Yogyakarta pada tanggal 21 November 1961. Ia adalah anak dari koreografer dan pelukis senior dari Indonesia yakni Bagong Kussudiardjo serta saudara dari Djaduk Ferianto.

Butet Kertaredjasa sudah malang melintang di dunia teater. Ia pernah bergabung dengan Teater Kita-Kita (1977), Teater SSRI (1978-1981), Teater Gandrik (1985-sekarang) hingga Komunitas seni Kua Etnika (1995-sekarang).

Beberapa pentas monolog juga pernah ia pentaskan diantaranya Racun Tembakau (1986), Lidah Pingsan (1997), Lidah (Masih) Pingsan (1998), Benggol Maling (1998), Raja Rimba Jadi Pawang (1999), Matinya Toekang Kritik (2006) hingga Kucing (2010).